Sejarah Desa

  • Sejarah Desa

Setiap tempat pasti memiliki sejarah atau riwayat masing–masing, demikian halnya dengan Desa Jenu. Sejarah suatu tempat sering kali tertuang dalam suatu serat, babad, bahkan dongeng–dongeng yang sering dikaitkan dengan mitologi–mitologi kuno yang diwariskan secara turun-temurun dan disampaikan dari mulut ke mulut. Hal ini mengakibatkan sejarah asal mula suatu desa sulit dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Kecuali desa–desa yang memiliki sejarah secara tertulis, misalnyadengan adanya bukti berupa prasasti dan sebagainya.

Sejarah Desa Jenu tidak dapat diketahui secara pasti kapan dan siapa pendirinya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah tentang adanya tempat bernama “jenu” sering kali dikaitkan dan berkembang seiring dengan berdirinya Kabupaten Tuban. Berdasarkan hal tersebut maka kami melakukan pendekatan dengan sejarah berdirinya Kabupaten Tuban. Dimana disebutkan dalam buku “Tuban Bumi Wali, The Spirit of Harmony”, bahwa di daerah Tuban banyak terdapat tanaman tuba (racun ikan) yang dalam bahasa jawa kuno disebut “JENU”. Dimana tempat yang banyak terdapat tanaman tersebut terletak disebelah barat Tuban. Hal tersebut mengidentifikasi bahwa tempat yang dimaksud di atas adalah daerah Jenu (sekarang).

Disebutkan bahwa pada awal mula berdirinya desa jenu dibuktikan dengan terdapatnya kehidupan bermasyarakat sejak masa lampau di desa Jenu yaitu terdapat banyaknya makam-makam Islam yang sudah berusia ribuan tahun, diantaranya komplek makam Sentono Jenu. “Sentono” berasal dari kata “astana” yang secara harfiyah mempunyai dua arti yaitu tempat tinggal para raja (istana) dan tempat tinggal para pembesar (keluarga raja).

Jika kita merujuk pada kata pertama yang berarti bahwa di desa Jenu merupakan tempat tinggal para raja (istana) maka hal itu tidak terdapat bukti yang ditemukan, karena di desa Jenu tidak terdapat tempat situs purbakala yang mengarah ke peninggalan suatu keraton kerajaan tertentu. Sedangkan jika kita melakukan ke arti kata kedua maka sangat dimungkinkan bahwa di desa Jenu dulu merupakan tempat tinggal para keluarga kerajaan, hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa makam yang terdapat di komplek makam sentono yang merupakan keturunan keluarga kerajaan. Misalnya Syaikh Abdurrosad bin P. Trenggono di sentono kidul dan Syaikh Abdurrahman bin Trenggono di sentono lor, yang jika kita perhatikan maka nama P. Trenggono merupakan keluarga kerajaan Demak.

Selain kedua nama tersebut di atas yang paling terkenal adalah Syaikh Hasanuddin (Samsuddin Al Arif) bin Syaikh Arifin, Syekh Abbas (Mbah Korowelang) / Pangeran Jenu bin Abdullah, Nyai Anom (Mbah Trem Abdurrosad) dan Dewi Uning binti Kronojoyo. Di desa jenu terdapat 5 komplek makam keramat yaitu komplek sentono kidul (belakang masjid Astana), sentono lor, makam keramat situnggul, makam gapura dan makam kemuning. Dari lima komplek makam tersebut terdapat 33 orang auliya’, sholihin, dan para leluhur yang dimakamkan disana.

Dari banyaknya para leluhur yang dimakamkan di desa Jenu seperti pada uraian tersebut di atas maka sangat mungkin bahwa wilayah desa Jenu merupakan tempat tinggal para pembesar, baik dari kalangan keluarga bangsawan (kerajaan), maupun dari kalangan para wali (auliya’) yang menyebarkan agama Islam di Tuban. Hal tersebut di atas telah menjadi bukti bahwa desa Jenu telah dijadikan tempat tinggal atau pemukiman sejak jaman dahulu.

Selain bukti pada uraian di atas, terdapat pula penemuan benda purbakala berupa fosil cula badak purba yang sekarang tersimpan di Museum Kambang Putih Tuban yang ditemukan di Jenu (belum pasti tempatnya). Hal ini sebagai bukti bahwa pada jaman pra sejarah pun wilayah desa Jenu telah dihuni beberapa binatang purba.

  • Sejarah Pemerintahan Desa

Pada waktu pra kemerdekaan Indonesia, desa Jenu merupakan salah satu bagian dari Kadipaten Tuban yang merupakan bagian dari kerajaan-kerajaan yang secara bergantian menguasai nusantara. Tuban merupakan pelabuhan utama dari kerajaan-kerajaan besar yang menguasai Jawa Timur pada saat itu. Mulai dari kerajaan Singasari, Majapahit, Demak, hingga Mataram. Seiring perkembangan jaman, pada periode masa penjajajah, desa Jenu merupakan bagian dari wilayah Karesidenan Bojonegoro, Kabupaten Tuban, Kawedanan Tambakboyo.

Seperti pada umumnya, sejak jaman kerajaan bahwa wilayah desa merupakan satuan pemerintahan paling kecil yang dipimpin oleh seorang Akuwu (Petinggi). Namun tidak diketahui secara pasti siapa Petinggi Jenu yang pertama, karena tidak adanya bukti yang dapat  mengungkapkannya.

Pada masa Penjajahan Belanda, Kabupaten Tuban terbagi atas beberapa Kecamatan, diantaranya adalah Kecamatan Jenu yang merupakan bagian dari kawedanan Tambakboyo. Sedangkan Ibu Kota pemerintahannya terletak  di Desa  Jenu (pertigaan Koramil lama). Ada beberapa kantor pemerintah di desa Jenu yang sekarang masih ada dan masih digunakan sampai sekarang. Diantaranya adalah bekas kantor Kecamatan Jenu yang sekarang digunakan sebagai kantor UPTD Kimpraswil dan PU Kecamatan Jenu, bekas kantor Polsek Jenu sekarang digunakan sebagai kantor Polantas Polsek Jenu, bekas Koramil Jenu dan bekas rumah dinas Kapolsek Jenu.

Desa Jenu terbagi atas dua dusun, yaitu dusun Krajan (sekarang dusun Jenu) sebagai ibu kota pemerintahan Desa, dan dusun Kejenon sebagai dukuhan. Dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa, desa Jenu dipimpin oleh seorang Petinggi (Kepala Desa), yang dalam tugasnya dibantu oleh Carik (Sekdes), Kebayan, Jogoboyo, Modin, serta Kamituo sebagai kepala wilayah dusun.

Sejak terbentuknya Desa Jenu, telah mengalami pergantian kepemimpinan (Kepala Desa), dimana tidak diketahui secara pasti siapa Kepala Desa yang pertama seperti yang telah disebutkan di atas namun menurut para sesepuh desa yang masih hidup, desa Jenu telah mengalami pergantian Kepala Desa sebagai berikut :

¤   SARMIDJAN              masa penjajahan Belanda (sebelum kemerdekaan RI)

¤   WARSILAN                masa penjajahan sampai dengan tahun 1952

¤   H. KARSIMIN             tahun 1952 sampai tahun 1989

¤   M. YASIR                   tahun 1989 (PJ. Kepala Desa)

¤   H. IMAM SUHARNO   tahun 1990 sampai tahun 1998

¤   M. YASIR                   tahun 1998 (PJ. Kepala Desa)

¤   HASAN                      tahun 1999 sampai tahun 2007 (periode I)

¤   MUH. KHOLIK            tahun 2007 (PJ. Kepala Desa)

¤   HASAN                      tahun 2007 sampai tahun 2013 (periode II)

¤   TUTIK                        tahun 2013 sampai sekarang

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)